introspeksi (2)

Allah SWT menciptakan semua yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Lelaki dan perempuan, besar dan kecil, siang dan malam, menang dan kalah, dan seterusnya. Begitu juga dalam kehidupan manusia. Mereka akan bertemu dua persimpangan dalam jalan kehidupannya. Ia harus memilih sama ada jalan yang lurus (Shiratul mustaqim) atau jalan yang sesat (Jahiliyah). Al-Qur’dan telah menjelaskan tentang hakikat diri manusia yang di dalamnya ada dua unsur. Ianya akan saling bertembung, saling bertarung untuk memenangi yang empunya diri. Firman Allah: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams: 8-10)

            Jalan “fujur’ adalah jalan kaum yang sesat (Nasrani) dan jalan kaum yang dimurkai Allah (Yahudi). Manakala jalan “taqwa” adalah jalan orang-orang yang taat kepaa Allah dan Rasul Nya. Sebagaimana Allah berfirman: “…dan pasti Kami tunjukki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahkan nikmat oleh Allah, iaitu: Para Nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang-orang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisaa’: 68-69)

            Jalan fujur dan taqwa, masing-masing memiliki “daya magnet” dan “medan magnet” yang tersendiri. Masing-masing memiliki garis edar yang tidak akan pernah beriringan antara satu sama lain. Jalan fujur berada di kutub “batil” manakala jalan taqwa pula berada di kutub “al-haq”. Keduanya akan sentiasa saling menghancurkan.

            Manusia, adalah satu-satunya makhluk yang diberi kebebasan memilih jalan yang akan ditempuhinya. Namun dalam kehidupannya mereka akan tidak terlepas melalui kedua jalan tersebut. Seorang insan pada satu ketika mungkin akan berada di atas jalan fujur, sedang pada ketika yang lain akan berada di jalan taqwa. Semuanya ini amat bergantung kepada sejauhmana kekerapan seseorang itu memperbahrui perjanjiannya (syahadatain) kepada Allah SWT. Namun yang PASTI tidak mungkin sama sekali manusia itu akan berada di atas kedua-dua jalan dalam satu masa. Sesungguhnya kedua-dua jalan ini selama-lamanya tidak akan pernah bertemu, meskipun pada satu titik. Allah tidak pernah menciptakan dua hati dalam diri seseorang.

            Sebuah gambaran yang menarik mengenai sifat fujur dan taqwa ini adalah kedua-duanya ibarat dua benih tanaman yang berbeza. Kemudian benih ini disemai pada sebuah tapak semaian dalam lubang yang berbeza. Tumbuh atau tidaknya kedua benih tersebut amat bergantung kepada air yang disiramkan, baja yang ditaburkan, racun pembasmi serangga perosak yang disemburkan dan sejauhmana kerajinan serta ketekunan si penanam dalam membersihkan rumput-rumpai yang mengganggu tanaman yang berada di sekitarnya.

            Satu benih akan menumbuhkan satu tanaman yang memiliki akar yang kuat dan menghunjam jauh ke dalam tanah. Manakala batangnya pula kuat dan cabang-cabangnya tinggi melangit. Tanaman ini menyenangkan hati si penanam juga orang-orang yang memandangnya. Sebuah pohon yang mampu memberi naungan bagi yang ingin berteduh, begitu kukuh dan tidak mudah tumbang ketika di tiup angin malah menghasilkan buah-buahan yang lazat sepanjang tahun. Inilah pohon taqwa.

            Sementara benih yang satu lagi akan menumbuhkan satu tanaman yang memiliki akar rerambut yang rapuh dan tidak menghunjam ke dalam tanah. Ia begitu rapuh sehingga tidak kuat menampung batangnya apatah lagi jika ditiup angin, pasti musnah sama sekali. Tumbuhan ini ibarat pepohon parasit. Kehadirannya tak pernah diharapkan oleh si empunya tanah. Bukan sahaja tidak menghasilkan buah-buahan yang lazat malah mengganggu gugat kehidupan lain serta merosakkan tekstur tanah. Inilah pepohon fujur.

            Jadi orang-orang yang soleh adalah ibarat para petani pohon taqwa yang berjaya. Mereka berfikiran rasional. Dengan kewarasannyalah mereka hanya memilih untuk menghidup suburkan pohon taqwa sahaja. Sementara benih pohon fujur tidak akan diberi ruang, peluang dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

            Manakala “ahlul maksiat” (orang-orang yang melakukan maksiat) adalah mereka yang tidak rasional. Tidak waras kerana telah memilih untuk menghidup suburkan pohon fujur. Lebih menyedihkan mereka membiarkan benih pohon taqwa dan akhirnya benih itu mati sebelum berputik.

Menganalisa Diri

            Mengapa perlu menganalisa diri?. Ini diilhamkan oleh beberapa ayat Allah yang mengajak manusia berfikir tentang diri manusia itu sendiri. Begitu juga dengan firman-firman Allah yang menerangkan tentang adanya daya tarik menarik antara kekuatan jahiliyah (al-Batil) dengan al-haq pada setiap insan. Manakala al-haq itu pula digambarkan sebagai kekuatan yang memiliki satu sumber iaitu Allah SWT, sementara “zhulumaat” (kesesatan dan kegelapan) memiliki pelbagai sumber, pelbagai bentuk dan jalan. Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 257 : “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Kekuatan Diri (Strength).

            Ia bermaksud apa sahaja kekuatan dan kelebihan asas yang dimiliki manusia. Kekuatan ini adalah fitrah Islam yang tertanam di dasar hati setiap manusia yang dibawa sejak ia lahir. Dalam suarh al-A’raf ayat 172, Allah SWT berfirman:

            “Dan ingatlah, ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab: “Benar, Engkau Rabb kami, kami menjadi saksi”

…Dalil lain yang menyatakan adanya kekuatan dasar ini adalah sabda Rasulullah SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Fitrah insani sebagai kekuatan dasar merupakan modal awal manusia dalam menempuh kehidupan. Setiap bayi yang lahir memiliki kadar fitrah yang sama meskipun berasal dari status sosial yang berbeza. Perjalanan hduplah yang membezakan kadar fitrah itu pada kemudian hari.

Kelemahan Diri (Weakness).

            Kelemahan-kelemahan manusia yang bersifat “basyari”. Sebagaimana yang diungkapkan dalam al-Qur’dan, seperti “dha’if”, tergesa-gesa, berputus asa dan berkeluh kesah. Keempat-empat sifat ini merupakan sifat yang dibawa manusia sejak lahir.

            Sifat “dha’if” menggambarkan kerendahan manusia secara umum yang bermakna keterbatasan dan ketidak berdayaan manusia. Sifat-sifat tergesa-gesa, berputus asa dan berkeluh kesah menunjukkan kelemahan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu dan emosi.

Peluang (Opportunity).

            Peluang-peluang yang dapat membawa manusia kepada keselamatan dan keuntungan (husnul khatimah). Seperti melipat gandakan pahala dan tidak melipat gandakan dosa, merebut peluang besarnya ganjaran pahala di bulan Ramadhan, juga ganjaran orang yang mati syahid di jalan Allah dan sebagainya.

            Begitu juga dengan menyumbangkan (infaq) harta yang ada pada jalan Allah pasti ia memperolehi ganjaran yang berlipatganda sehingga 700 kali ganda. Firman Allah :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir : seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah: 261)

            Manakala mereka yang gemar membaca al-Qur’dan, bagi setiap huruf yang dibacanya akan dibalas 10 kali ganda. (Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Tarmidzi).

Kekangan (Threat).

            Ia merupakan hambatan dan rintangan-rintangan luaran yang menyebabkan manusia menjadi orang yang celaka dan rugi. Seperti bisikan syaitan, budaya jahiliyah, tarikan duniawi dan sebagainya.

            Dari sekian banyak rintangan dan kekangan yang menyebabkan kecelakaan bagi manusia, godaan syaitan merupakan rintangan yang paling hebat, berat dan sukar. Nabi Allah Adam dan Hawa dihukum Allah (diturunkan ke dunia) lantaran pujuk rayu syaitan. Qabil terdorong membunuh Habil kerana bisikan syaitan. Sesungguhnya syaitan telah bersumpah akan menggoda manusia dengan seluruh kekuatan agar manusia terkeluar dari jalan taqwa. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Israa’ secara terperinci pada ayat 62 hingga 65:

            “Dia (Iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, nescaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya kecuali sebahagian kecil.”

            “Tuhan befirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.”

            “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”

            “Sesungguhnya hamba-hamba Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan mu sebagai Penjaga.”

            Menganalisa diri amat penting dalam muhasabah. Di mana kedudukan kita sekarang? Sebesar mana usaha dan upaya kita mengembangkan potensi kekuatan diri. Dan bagaimana usaha kita untuk meminimakan dan mengurangkan kelemahan diri serta tantangan yang ada?. Marilah sama-sama kita “tepuk dada, tanyalah iman”……

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply